Monday, 28 September 2009

Met Idul Fitri


"Abundance of apologize may make us all back to purity. With peaceful mind and warm heart, let’s take this moment to forgive and forget all the faults we may ever had. And may our heart purified from all mistakes."

Selamat Hari Raya Idul Fitri.. Mohon Maaf Lahir Batin...Semoga ini Idul Fitri terakhir tanpa Khilafah

Monday, 17 August 2009

Puasa Sesuai Menurut Dunia Medis Kedokteran


Berpuasa artinya tidak makan dan tidak minum, menahan nafsu dari Shubuh sampai adzan maghrib berbunyi. Jika dihitung dari shubuh, sekitar jam3-an hingga jam maghrib, maka kurang lebih 15 jam kita tidak makan dan tidak minum. Bagaimana segi medis menanggapinya? Waktu kita berpuasa otomatis, perut kita kosong sehingga tidak ada asupan energi dari makanan. Kita juga dianjurkan makan sahur. Makan sahur seperti makan nasi yang mengandung banyak karbohidrat. Di dalam mulut, nasi dicerna dan tercampur dengan enzim amilase yang merubah amilum menjadi glukosa. Glukosa masuk ke dalam usus halus. Di usus halus, glukosa diserap dan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh terutama sel-sel tubuh. Di dalam sel, glukosa akan mengalami proses glikolisis untuk dirubah menjadi asam piruvat, asam laktat dan tidak lupa energi. Energi inilah yang akan digunakan untuk aktivitas sehari-hari selama berpuasa. Cadangan glukosa tersebut akan habis dalam waktu 18 jam. Sedangkan glukosa meningkat tinggi dalam darah 2-4 jam setelah makan, lalu setelah itu kadarnya menurun terus. Bila dalam darah sudah mengalami kekurangan, maka glukosa akan memecah glikogen untuk dirubah menjadi glukosa. Sedangkan cadangan glukosa ini akan habis dalam waktu 18 jam. Puasa sendiri itu hanya 15 jam. Jadi secara rentang waktu sebenarnya masih dalam batas yang dapat ditoleransi tubuh manusia itu sendiri.
Bayangkan jika kita puasa 24 jam. Yang terjadi bukannya menyehatkan, melainkan penyiksaan. Karena setelah kadar glikogen hepar habis, maka tubuh memakai cadangan dari otot, kemudian semua lemak habis dipakai untuk proses Lipolisis. Ini akan merusak struktur tubuh manusia karena lemak dipecah. Jadi puasa yang benar adalah puasa menurut ajaran Islam, karena sesuai dengan siklus biokimia tubuh manusia itu sendiri. Sedangkan puasa yang dari kejawen, sebenarnya bertentangan dengan medis, seperti pati geni, yang semalam suntuk tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Islam pun mengharamkannya. Kita lihat betapa Allah ini MahaAgung, dapat mengatur ibadah bisa yang sesuai dengan metabolisme manusia. Sebuah Riwayat : Rasulullah bersabda : “Bahwasannya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang wajib engkau bayar, begitu juga dirimu dan keluargamu semua mempunya hak yang wajib engkau bayar. Maka dari itu, hendaklah engkau berpuasa (sewaktu-waktu) dan berbuka (sewaktu-waktu), berjaga malam (sewaktu-waktu) dan tidur (di waktu yang lain). Dekatilah keluargamu, dan berikanlah hak mereka satu per satu.” (HR. Bukhari)
Manfaat Puasa :
1. Mengurangi lemak-lemak dalam tubuh, sehingga mengurangi resiko jantung koroner dan stoke.
2. Mengurangi nafsu seks manusia, Ini dikarenakan suplai makanan untuk sperma berkurang sehingga nafsu yang dulu menggebu-gebu, bisa sedikit direm. Dalam sebuah riwayat : Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (HR. Muttafaq Alaihi).
3. Memberi kesempatan kepada organ-organ usus untuk beristirahat dan tidak bekerja terus menerus.

Niat Dalam Berpuasa Wajib Hukumnya!!
Bagaimana Ilmu Kedokteran Menerangkannya?
Segala sesuatu yang dikerjakan harus berdasarkan niat. Dari segi medis, niat berpuasa ini bisa dijelaskan.
Proses terjadinya rasa lapar : Pada saat perut kosong, maka akan dikirim kan sinyal kepada pusat lapar yaitu hipothalamus. Oleh hipothalamus direspon dengan mengeluarkan hormon-hormon pencernaan seperti seperti gatrin, kolesistokinin,lipase, dan amilase. Di sini bukan hipothalamus-nya yang mengeluarkan hormon tersebut secara langsung, namun menstimuli organ-organ yang memiliki hormon tersebut untuk mensekresikannya. Pada saat lapar, kelenjar ludah mengeluarkan enzim amilase. Sehingga ludah menjadi semakin banyak dan di dalam lambung terjadi pengeluaran gastrin yang memicu meningkatnya asam lambung. Asam lambung meningkat dan dinding lambung bergesekan sehingga timbul bunyi. Hal inilah yang memicu lapar dan nafsu makan akan meningkat.
Hal ini bisa diblok oleh niat puasa. Pada waktu makan sahur, ada keyakinan tidak akan makan kecuali saat adzan maghrib berkumandang. Keyakinan ini dibawa ke otak sampai ke hipothalamus. Di hipothalamus diproses sehingga impuls perut yang kosong akan diblok, sehingga asam lambung tidak meningkat, dan kelenjar ludah juga tidak meningkat. Ini akan mengurangi rasa lapar dan perut yang sakit karena lambung yang asamnya meningkat maupun gesekan antar dindingnya sudah tidak ada. Ini sangat memudahkan dalam menjalankan ibadah puasa.
Sumber : ISLAM de MEDICINAE dan Kitab Puasa.

Sunday, 16 August 2009

Ramadhan Tiba

Marhaban Ya Ramadhan
Selamat Datang Bulan Ramadhan
Do'a Malaikat Jibril adalah sbb:
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad,apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
- Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun mengatakan amiin sebanyak 3 kali.
Dapat kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at.
Tanpa Disadari
11 bulan banyak kata sudah diucapkan dan dilontarkan tak semua menyejukkan,11 bulanbanyak perilaku yang sudah dibuat dan diciptakantak semua menyenangkan,
11 bulanbanyak keluhan, kebencian, kebohongan menjadi bagian dari diri,
saatnya istirahat dalam "perjalanan dunia"saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga,saatnya menikmati indahnya kemurahanNyasaatnya memahami makna pensucian diri

Selamat menunaikan Ibadah Puasabersama kita leburkan kekhilafan,Semoga dengan puasa mempertemukan kita dengan Keagungan Lailatul Qadar dan kita semua menjadi pilihanNya untuk dikabulkan do'a - do'a dan kembali menjadi fitrah hingga pertolongan Allah segera diturunkan.
Amin.

Tuesday, 21 July 2009

Ternyata Kita Wajib Mendua

Eits, jangan salah sangka dulu.. Mendua dalam hal apa? Kuliah dan ngaji (maksudnya mengkaji Islam). He.. ketipu ya? Cz selama ini sebagian kita khawatir kalau mahasiswa yang mendua alias yang ikut ngaji itu akan terganggu akademiknya? Lulusnya molor plus tidak amanah dengan kewajiban dari orang tua gara-gara waktunya gak cuma buat kuliah saja. Dan bener gak sih kewajiban kita sekarang itu cuma kuliah? Penasaran? So, jangan bergeser dulu dari mading ini ya.. Lets check it out!
Istilah ngaji sudah mulai popular di tengah-tengah mahasiswa. Kalau dulu kita bayangin ngaji itu pasti di pesantren atau TPA, ternyata mengkaji Islam bisa juga walaupun kita sudah kuliah di kampus. Tentunya gak sekedar belajar ngaji baca Al-Quran saja dong. Ngaji yang ini bakal menambah wawasan dan merubah cara pandang kamu tentang kehidupan dengan mindset Islam. Bahkan kamu bakal tahu solusi semua masalahmu, masalah keluarga kamu dan juga masalah umat. Trus gimana dunk, kalo kita kuliah di ITS dengan seabrek tugasnya yang bikin mahasiswa seringkali jumpalitan? Bahkan ada yang sampe gak sempet mandi karenanya.hi.. Bisa bagi waktu untuk ngaji Islam gak ya?
Gini sobat, jangan sampai kesempatan mengkaji Islam sirna gara-gara kamu hanya fokus pada urusan kuliah dan lainnya. Karena keduanya sama-sama wajib. Bahkan menuntut ilmu Islam hukumnya wajib ‘ain alias gak bisa diwakilkan kepada orang lain. Kita harus belajar untuk kepentingan kita sendiri. Coba bayangin, kalau temen kita udah belajar fiqh sholat trus juga melakukan sholat apa kewajiban kita untuk sholat juga gugur karena udah diwakilkan teman kita itu tadi. Nah, kalo mempelajari ilmu umum/science, hukumnya wajib kifayah, jika sudah ada yang kompeten dalam bidang science tertentu, maka ketika kita mempelajari bidang tersebut , ya tidak masalah. Kalopun toh tidak, juga tidak apa-apa karena memang sudah ada pihak yang berkompeten.Tapi bukan berarti disepelekan lho. Dua-duanya bisa kita raih kok. Yakin saja asal kita bisa bagi waktunya.
Ternyata banyak teman-teman kita yang di luar prestasinya sebagai juara PKM, PIMNAS, bahkan MAWAPRES ternyata mereka masih bisa ngaji dan dakwah. Karena mereka yakin kalo ngaji itu wajib. Sedangkan kalo prestasi akademik merupakan rizki yang diberikan Allah pada kita. Segigih apapun kita belajar untuk akademik,bahkan sampai meninggalkan kewajiban kita untuk mengkaji Islam, tapi jika ternyata Allah berkehendak untuk kita lulus lebih dari target karena suatu hal yang tak terduga misalnya. Tapi bukan berarti kita pasrah terhadap qodho’ lho, hukum sebab akibat disini tetap berlaku, karena Allah akan menilai ikhtiar yang kita lakukan.
Atau kita juga bisa menengok ke belakang. Kata orang bijak, belajarlah dari sejarah! Cie.. bagaimana para cendekiawan muslim pada masa khilafah memiliki kedalaman ilmu di bidangnya, tapi juga bisa hafal Al-qur’an di usia muda. Misal di bidang kedokteran, nama Ibnu Sina sudah tak asing lagi di telinga kita. Bapak kedokteran modern inilah bersama-sama saudara cendekiawan muslim lain seperti Al-Kindi, Ar-Razi, Ibnu An-Nafis dan Abu Al-Qarim Az-Zahrawi pernah menjadikan kedokteran Islam Berjaya. Semua prestasi mereka ternyata juga di dukung oleh Negara lo. Semua riset dan aktivitas yang disitu berperan dalam menyehatkan umat di biayai oleh Negara. Maka gak heran kalo mereka bisa produktif dalam berbagai prestasi. Didikan khilafah terhadap ketakwaan individu yang membuat mereka ingin membrikan manfaat bagi umat dan Negara juga berperan dalam hal ini.
So, apalagi yang kita ragukan. Jadikan aktivitas mengkaji Islam itu sebuah hal yang menyenangkan. Dan jangan sekali-kali dianggap sebagai beban. Lakukanlah karena motivasi cinta karena Allah dan RasulNya, yang lama-lama akan menjadi kebiasaan yang membentuk kita menjadi muslim sejati yang tangguh. So, what are you waiting for? Mari kita dahulukan kuliah, tapi mengutamakan ngaji. (lho?) Maksudnya dua – duanya jalan. Oke? Sip? Mendua? Siapa takut!